Pada malam 27 Agustus, enam orang duduk di NCO: Bang Reza, Jundi, Wildan, Iqbal, Apang, dan Albanna. Kopi baru saja sampai di meja ketika percakapan mengambil arah yang tidak biasa: dari lembaran uang di saku, ke keruntuhan sebuah kekaisaran, sampai ke tanda-tanda zaman yang oleh sebagian orang disebut zaman. Satu malam yang bergerak cepat, dari angka-angka sejarah sampai harapan-harapan besar.
Uang dan Templar
Bang Reza yang membuka. Katanya, uang yang kita pegang hari ini, sistemnya, bukan kertasnya, berasal dari Templar. Ordo Ksatria Templar, yang lahir pada abad pertengahan untuk menjaga para peziarah di Tanah Suci, dianggap oleh sebagian narasi sebagai cikal bakal perbankan modern: menyimpan harta, menerbitkan surat jaminan, memindahkan kekayaan tanpa memindahkan emasnya. Dari sanalah, menurut Bang Reza, logika uang yang kita kenal mulai terbentuk. Telinga-telinga di meja langsung menajam. Jundi mengangguk pelan, Wildan mengangkat alis, dan Iqbal mulai menyiapkan pertanyaan, ciri khasnya malam itu.
Hegemoni yang Runtuh
Dari Templar, percakapan melompat ke Amerika. Jundi berbicara panjang tentang runtuhnya hegemoni Amerika Serikat, dan bersama itu, sistem kapitalisme yang ia bangun selama hampir satu abad. Mata uang yang dijadikan patokan dunia, institusi-institusi keuangan global, pakta-pakta yang mengikat banyak negara. Semua itu, kata Jundi, sedang menunjukkan retakan. Yang lebih penting baginya: Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Di masa kritis nanti, ketahanan pangan dan ketahanan ekonomi Indonesia akan diuji. Negara yang bisa memberi makan rakyatnya akan dapat bertahan saat badai datang.
Mahdi dan Timur Tengah
Dari geopolitik, Jundi menyinggung sesuatu yang membuat suasana meja berubah: turunnya Mahdi, yang menurutnya kemungkinan besar berasal dari Timur Tengah. Bagi sebagian orang di meja, ini bukan sekadar kisah agama, melainkan kerangka untuk membaca arah zaman. Jika narasi keruntuhan benar, maka fase berikutnya dari sejarah dunia sudah dituliskan jauh sebelumnya. Wildan angkat bicara dengan pertanyaan yang paling khas darinya: kita harus mulai dari sisi sejarahnya.
Alexander Cyrus, dan Gog-Magog
Wildan bertanya kepada meja: siapa sebenarnya Alexander Cyrus? Kedua nama itu kerap dikaitkan dengan sosok Dzulqarnain dalam narasi Islam, raja adil yang disebut-sebut membangun benteng untuk mengurung Gog dan Magog. Ada yang meyakini Dzulqarnain adalah Alexander Cyrus, raja Persia yang dikenal karena keadilannya. Lalu siapa Gog dan Magog, dua bangsa yang menurut banyak riwayat akan keluar menjelang akhir zaman? Iqbal dan Apang langsung menyambar: semua klaim ini harus dicek sumbernya. Pertanyaan-pertanyaan menarik terus mengalir dari mereka berdua: apakah identifikasi Alexander dengan Dzulqarnain didukung bukti, dari mana narasi itu berasal, dan bagaimana para sejarawan membacanya hari ini. Malam itu, meja kami menjadi ruang verifikasi kecil: setiap nama diuji, setiap klaim ditimbang.
Generasi yang Lebih Kritis
Di tengah semua itu, Albanna justru melihat ke depan. Ia bicara dengan optimisme yang menular tentang Indonesia Emas 2045 dan bonus demografi yang akan datang. Menurutnya, ada yang paling membedakan generasi kini dari masa-masa sebelumnya. Generasi muda Indonesia sekarang jauh lebih kritis dibanding generasi sebelumnya. Percakapan seberat ini, soal uang, hegemoni, sejarah, dan akhir zaman, semasa milenial seusia mereka di usia dua puluhan jarang dipertanyakan. Sekarang, pertanyaan-pertanyaan itu justru datang dari meja kopi, dari orang-orang yang masih muda. Saat bonus demografi tiba, kata Albanna, merekalah yang akan menjadi aktor utamanya.
Enam Suara, Satu Malam
Bang Reza membawa benang uang dari Templar. Jundi menyusun keruntuhan hegemoni dan ketahanan Indonesia di masa kritis. Wildan menyambungkannya ke sejarah: Alexander Cyrus, Gog dan Magog. Iqbal dan Apang menjaga agar meja tidak mudah percaya, menguji setiap klaim dengan pertanyaan dan pengecekan sumber. Albanna menutupnya dengan keyakinan bahwa generasi ini, generasi yang bertanya, akan memegang peran penting saat waktunya tiba.
Menjelang larut, salah satu dari kami menatap gelas yang sudah kosong dan berkata pelan: "Nggak kerasa, dari uang Templar sampai Indonesia Emas." Kami tertawa. Malam itu memang terasa seperti perjalanan panjang: dari abad pertengahan ke modern, dari keruntuhan ke harapan dan optimisme. Dan seperti malam-malam lain di NCO, percakapan ini tidak benar-benar selesai.