Pada 14 Agustus 2026, empat orang duduk dan membicarakan peradaban. Albanna, Jundi, Iqbal, dan Wildan. Masing-masing datang dengan pengetahuan yang berbeda, dan semuanya keluar dari satu malam itu dengan kepala yang lebih penuh.
Dari Hipotesis Nusantara
Percakapan dimulai dari tanah Indonesia sendiri. Ada hipotesis yang menyebut adanya peradaban di Nusantara sejak 14.000 tahun lalu, jauh sebelum narasi-narasi besar yang biasa kita pelajari di bangku sekolah. Albanna lebih banyak mendengarkan, sesekali menyuntikkan cara berpikir ilmiah. Ia mengingatkan untuk membaca klaim semacam ini dengan kritis: dari mana buktinya, bagaimana metodologinya, dan apa yang belum bisa dijelaskan.
Byzantium dan Bayang-bayangnya
Dari Nusantara, pembicaraan melompat jauh ke barat: Byzantium. Iqbal sedang menempuh studi di Rusia, yang ia sebut sebagai semacam sisa dari Byzantium. Ia menceritakan bagaimana kekaisaran yang beribukota di Konstantinopel itu bertahan lebih dari seribu tahun, menjadi jembatan antara dunia kuno dan dunia modern, dan bagaimana warisannya masih terasa di Eropa Timur hingga hari ini.
Romawi, Sunni, Syiah, dan Salah Paham yang Sering Terulang
Dari Byzantium, tidak jauh ke Romawi. Dari Romawi, percakapan bergeser ke salah satu bagian yang paling sering disalahpahami: persoalan Sunni dan Syiah. Jundi berkontribusi besar di sini. Ia meluruskan banyak anggapan keliru yang beredar, bahwa perpecahan itu bukan sekadar kubu yang berbeda, melainkan berakar pada sejarah yang panjang, rumit, dan sering kali disederhanakan secara berlebihan.
Muawiyah, Abbasiyah, Persia, Ottoman
Kisah itu berlanjut ke Muawiyah, tokoh yang namanya hampir selalu muncul dalam perdebatan Sunni dan Syiah. Lalu ke Dinasti Abbasiyah, masa keemasan ilmu pengetahuan dan penerjemahan. Ke Persia, yang memberi warna tersendiri pada peradaban Islam. Hingga Ottoman, kekaisaran yang berdiri selama berabad-abad dan menjadi jembatan antara Timur dan Barat. Wildan, dengan pengetahuannya yang kaya tentang sejarah Eropa dan Timur Tengah, menyambungkan semua potongan itu menjadi satu alur.
Kristen Ortodoks dan Tahun 1965
Pembicaraan juga menyentuh Kristen Ortodoks, sisi lain dari warisan Byzantium yang masih hidup dalam liturgi, ikon, dan tradisi. Yang terakhir, dan mungkin yang paling dekat dengan kita, adalah surat-surat CIA kepada Soeharto di tahun 1965. Sebuah pengingat bahwa sejarah tidak pernah hanya berlangsung di masa lalu. Ia terus bekerja di bawah permukaan, membentuk peta politik dan kekuasaan yang kita warisi hari ini.
Empat Suara
Jundi menguasai sejarah Sunni, Syiah, dan Muawiyah. Iqbal membawa pengalaman langsung dari tanah yang dulunya Byzantium. Wildan menyambungkan potongan-potongan sejarah Eropa dan Timur Tengah. Albanna menjaga agar pembicaraan tidak larut dalam narasi tanpa bukti. Masing-masing mengisi bagian yang berbeda, dan pembicaraan bisa berjalan jauh karena itu.
Ini baru permulaan. Ada banyak lagi yang bisa digali.