Pada malam 17 Agustus, kami lima orang duduk di NCO — Iqbal, Apang, Halim, Jundi, dan saya sendiri. Kopi sudah di tangan, segelas es teh manis menyusul, dan entah bagaimana percakapan malam itu dimulai dari hal yang paling tak terduga: Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Iqbal yang memulai. Ia bercerita tentang jin-jin yang menjadi pasukan Bandung Bondowoso, membangun candi semalaman penuh — sampai ayam berkokok lebih awal dan mereka mengira fajar telah tiba. Propaganda yang menyebut Bandung Bondowoso sudah kalah membuat mental pasukan itu runtuh begitu saja; mereka tidak mau melanjutkan, lalu kabur. Apang mendengarkan sambil mengangguk, lalu menawarkan pembacaan yang membuat kami semua berhenti sejenak: bukankah jin, candi, dan malam bisa dibaca sebagai metafora? Kerja, waktu, dan kepercayaan. Albanna, yang sejak tadi hanya menyimak, mengingatkan pelan-pelan bahwa legenda tetaplah legenda — indah untuk dibaca, tetapi jangan sampai dijadikan fakta sejarah.
Entah bagaimana, dari dongeng kami melompat ke sejarah. "Sekarang Pangeran Diponegoro," kata Apang, dan Iqbal langsung mengambil alih. Diponegoro, putra Hamengkubuwono III, masih satu trah dengan Mataram. Ia berseteru dengan pamannya sendiri, Mangkunegara, yang memilih bekerja sama dengan Belanda; Diponegoro tidak mau. Seseorang sempat berbisik "Okay Google" untuk memastikan, dan dari situ kami malah sibuk menebak lokasi benteng yang menjadi titik balik perangnya. Magelang? Ambarawa? Ada yang menyebut Ungaran, ada pula yang asal menyebut Tegal — Iqbal nyaris tersedak. "Tegal? Jauh banget!" Akhirnya kami sepakat: benteng Van den Bosch, pasukan terkepung, dan seorang pengkhianat. Diponegoro menyerah, lalu diasingkan ke Makassar. Jundi menggeleng. "Ngeri sih sejarahnya." Iqbal menimpali bahwa di balik perlawanannya ada jejak tarekat yang jarang dibicarakan orang.
Di tengah pembicaraan, pelayan datang dan salah satu dari kami memesan lagi. Tapi alurnya tidak mau berhenti — malah makin dalam. Kami mundur ke sumber segalanya: Mataram. Apang merangkumnya seperti menggambar pohon di udara: semua dari Mataram, lalu pecah tiga. Hamengkubuwono di Jogja, sementara Solo terbelah dua lagi menjadi Pakubuwono dan Mangkunegara. "Makanya," katanya, "tata cara busana antarkeraton saja bisa beda." Jundi lalu bertanya soal Batavia — sejaman dengan VOC, bukan? Sejaman, jawab Iqbal. Tapi Batavia tidak pernah punya kerajaan sendiri; jejaknya lebih dekat ke Banten, tempat Sultan Ageng Tirtayasa dilunturkan oleh anaknya sendiri, Sultan Haji, yang menjual Batavia kepada Belanda. Sultan Agung sempat ingin merebutnya kembali, gagal, dan Mataram justru runtuh kemudian ketika Amangkurat, cucunya, menunduk pada Belanda.
Dari situ muncullah salah satu kisah favorit kami malam itu: Sultan Agung. Iqbal membukanya dengan kalimat yang membuat semua orang menoleh — "Sultan Agung itu anak selir." Anak pertama raja dianggap cacat, dan ketika bapaknya, yang oleh Apang disebut Hana Coroko, wafat, titah justru jatuh kepada Sultan Agung yang waktu itu masih di pesantren. Seorang anak selir yang tidak pernah diharapkan, naik takhta, dan menjadi salah satu nama terbesar dalam sejarah Mataram. Ada yang berseru kecil, ada yang hanya mengucap "Oh." Malam itu, sejarah terasa lebih manusiawi.
Lalu kami mundur lebih jauh lagi, sampai ke Sriwijaya. Abad ke-7 hingga ke-11, berpusat di Palembang, hancur oleh serangan Kerajaan Chola. Apang menambahkan bahwa di Palembang masih ada istilah Jola-Jola — sisa dari masa itu. Jundi menghitung-hitung: abad ke-7 berarti nyaris sezaman dengan masa-masa awal penyebaran Islam. Setelah Sriwijaya runtuh, ada kekosongan, sampai Majapahit muncul pada 1293 di bawah Raden Wijaya, di Mojokerto. Iqbal menelusuri garis keturunannya seperti menarik benang: Majapahit dari Tumapel, dari Singosari, dari Ken Arok, dan Ken Arok sendiri dari Kediri. Satu rantai panjang yang saling menyambung.
Halim bertanya ke mana perginya trah Majapahit. Sebagian ke Bali, jawab kami bergantian. Saat kerajaan-kerajaan di Nusantara mulai memeluk Islam, sisa-sisa Majapahit memilih bertahan, dan Bali menjadi tempat mereka memelihara Hindu yang murni — tidak ikut percampuran Hindu-Buddha. Di Jawa pun trahnya masih ada: Raden Patah, keturunan Majapahit, yang kemudian mendirikan Demak.
Apang lalu membuka daftar yang sepertinya ia hafal di luar kepala: Kutai abad ke-4 sampai ke-17, Tarumanegara abad ke-5 sampai ke-7, Kalingga, Mataram Kuno abad ke-8 sampai ke-10 — semua masih Hindu dan Buddha. Iqbal sempat bertanya mana yang lebih tua, Mataram Kuno atau Mesir Kuno, dan sebelum jawaban keluar kami semua sudah tertawa. Mesir, jelas. Jundi lalu berbisik, "Sunda Empire baru," dan tawa makin pecah. Dari daftar itulah muncul pertanyaan Halim yang paling bagus malam itu: kalau Kutai lebih tua, kenapa justru Palembang yang disebut kota tertua di Indonesia? Jawaban Iqbal sederhana. Nama Palembang sudah ada sejak zaman Sriwijaya — sekitar 1.300 tahun. Kerajaan-kerajaan di Kutai masih tercerai-berai, tanpa nama kota yang menetap.
Menjelang malam semakin larut, kami berpindah ke kerajaan-kerajaan Islam. Aceh dan Perlak disebut yang tertua, disusul Samudra Pasai, Ternate, dan Tidore. Apang bercerita bahwa kesultanan Palembang masih hidup sampai sekarang, sultannya masih keturunan Mahmud Badaruddin — dan, seperti Sultan Agung, dikenal sederhana dan merakyat. Sumedang Larang pun masih menyimpan jejaknya. Dari sana kami menyinggung Muhammad Al Fatih yang menaklukkan Konstantinopel pada 1453, lalu Wali Songo yang menyebarkan Islam di Jawa pada abad ke-15. Halim, yang sedari tadi lebih banyak bertanya, tiba-tiba menyambungkan semuanya ke hari ini: Syarif Hidayatullah jadi nama UIN, Wali Songo jadi nama kampus, Brawijaya jadi nama kodam, dan Jayakarta — dari Pangeran Jayakarta — menjadi Jakarta. Nama-nama raja dan penyebar Islam yang ternyata masih hidup, menempel di institusi yang kita lewati setiap hari.
Menjelang akhir, satu hal lagi yang menarik keluar — dan ini datang dari Halim juga. Kata ratu ternyata lebih tua daripada raja. Ratu, dalam bahasa Jawa Kawi, berarti orang terhormat, bukan penanda jenis kelamin. Dalam prasasti, Sanjaya disebut Sang Ratu, bukan Sang Raja; pemisahan gender baru datang kemudian, kemungkinan mengikuti King and Queen. Iqbal tertawa membayangkan raja-raja zaman dulu yang tetap dipanggil Sri Ratu meskipun laki-laki. Dari situ kami menyebut Ratu Boko, istana dengan tempat tidur dari batu, lalu suksesi keraton Jogja yang sedang mencari penerus. Percakapan sempat melenceng ke takhta-takhta di negeri lain — Westerling yang mengaku-aku sebagai Ratu Adil, keluarga kerajaan Inggris — sebelum pelan-pelan kembali ke kopi yang sudah dingin di depan kami.
Malam itu kami pulang dengan kepala penuh. Iqbal menguasai alur besar Mataram dan Diponegoro; Apang hafal deretan kerajaan dan tahunnya seperti melafalkan doa; Halim tak henti bertanya dan justru menemukan hal-hal yang tidak kami pikirkan; Jundi sibuk menyusun garis waktu; Albanna menjaga agar kami tidak tersesat — legenda jangan disangka fakta, fakta jangan dihafal tanpa dipahami.
Saat salah satu dari kami berdiri untuk pulang, Apang melirik meja yang penuh gelas kosong dan berkata pelan, "Nggak terasa, udah kayak kerajaan juga ya." Kami tertawa. Mungkin memang begitu — setiap malam, meja ini menjadi keraton kecil, dan cerita-cerita ini menjadi takhta yang terus berpindah.
Obrolan ini menginspirasi satu project menarik tentang sejarah Nusantara.