Senada kedua membawa tema "Suka Duka Merantau": menerabas culture shock. Malam itu dipandu oleh salah satu host NCO Alna, ditemani dua bintang tamu: Iqbal Rabbani yang sedang menempuh pendidikan di Rusia, dan Muhammad Wildan Ihsan Maula yang merantau ke Semarang. Percakapan dibuka dengan perkenalan dua bahasa: Iqbal menyapa dengan Vsem privet, dobryy vecher! (halo semuanya, selamat malam), sementara Wildan memperkenalkan diri dalam bahasa Jawa: Jenengku Wildan. Dari sana obrolan bergulir: alasan berangkat, proses persiapan, culture shock, kehidupan sehari-hari, hingga hal-hal yang akhirnya mereka pelajari setelah hidup jauh dari rumah.
Alasan Berangkat
Wildan memilih Semarang karena keluarganya ada di sana, jadi keputusannya terasa lebih ringan. Meski begitu, perbedaan budaya tetap ia rasakan, dan ia mengisinya dengan kerja sampingan: freelance, training barista, bahkan membuat website. "Jadi enggak cuma ngandelin uang jajan doang."
Iqbal punya jalan yang lebih berliku. Sejak kelas dua SMA ia sudah bercita-cita kuliah ke luar negeri; ia mencatat daftar negara, beasiswa, dan dokumen yang perlu disiapkan di Notes. Namun satu dan dua hal membuatnya mengurungkan niat dan memilih kuliah di Indonesia. Sayangnya, semua PTN yang ia lamar (Undip, UI, UB) menolaknya. Awalnya ia menargetkan Jerman, tapi living cost-nya terlalu mahal. Temannya lalu menawarkan Rusia: "Sama kok living cost-nya sama Jakarta, biaya kuliahnya juga relatif sama kayak di Indonesia." Maka berangkatlah ia tanpa persiapan panjang. "Ternyata memang Tuhan sudah memutuskan, harus keluar."
Persiapan: Mental di Atas Segalanya
Menurut Iqbal, persiapan pertama bukan dokumen, melainkan mental. "Ke luar negeri itu bukan cuma menghadapi jauh dari orang tua, tapi juga jauh dari budaya-budaya kita yang biasa kita rasakan di Indonesia." Adaptasi tidak terjadi sehari dua hari; kalau mental tidak kuat, pasti bakal minta pulang. Baru setelah mental mantap, giliran dokumen: ijazah terjemahan, tes kesehatan, visa, paspor, sampai akomodasi. Semua bisa dicari tahu lewat website kampus tujuan, termasuk perkiraan living cost per bulan.
Wildan menambahkan: karena masih di Indonesia, persiapannya lebih ke mental untuk jauh dari orang-orang terdekat, plus urusan tempat tinggal dan finansial pribadi. Persiapan paling berat? Iqbal menjawab penyetaraan nilai. Prosesnya ribet: translate, notaris, Kemenkumham, apostille, dan semua dokumen harus konsisten. "Ribetnya di cari tahu apa saja yang dibutuhin dan harus memenuhi itu. Nunggunya lama. Itu yang paling memalaskan." Wildan tetap pada mental: "Sebulan dua bulan pertama pasti masih ada homesick-nya, masih ada kangen-kangennya sama orang-orang terdekat."
Culture Shock: Dingin dan Straightforward
First impression Iqbal di Rusia satu kata: dingin. Ia berangkat akhir November, saat suhu minus 30 derajat. "Baru keluar pesawat, langsung hidung beku, walaupun pakai jaket tebal banget." Culture shock yang paling terasa justru dari manusianya: orang Rusia itu straightforward. "Mereka enggak suka basa-basi. Mau A ya ngomong A, mau B ya ngomong B." Mereka memang tidak galak, hanya tegas: intonasi yang meninggi bukan tanda marah, melainkan cara supaya lawan bicara paham. "Banyak orang asing yang sakit hati karena merasa diomelin, padahal enggak."
Wildan sebaliknya: karena ada saudara di Semarang, ia tidak banyak mengalami culture shock. "Ada privilege juga mungkin ya." Perbedaan yang ia rasakan: orang Jawa lebih halus dan hormat dalam sopan santun. Yang paling terasa justru cuacanya: Semarang panas dan lembab, apalagi dekat pantai. Dan makanannya: manis semua. "Kalau di Bogor ada sayur asam, di Semarang sayur asannya manis. Sayur manis."
Iqbal menimpali soal makanan Rusia: hambar semua. "Kalau ke restoran, paling mending ke restoran Asia Tengah (Uzbekistan, Kazakhstan, Tajikistan)." Bahkan lada di sana lebih hambar; kalau di Indonesia cukup satu sendok, di sana harus lima. Karena itu ia harus belajar masak sendiri: makan di restoran bisa tiga sampai empat kali lipat lebih mahal daripada masak sendiri.
Menghadapi dingin yang ekstrem, sampai suhu minus 40 sampai 50 derajat, Iqbal berbagi cara orang Rusia bertahan. Mitosnya mereka menghangatkan badan dengan vodka; ternyata salah. "Mereka minum teh hangat buat menghangatkan badan." Begitu ia tiba di rumah temannya, langsung ditawari teh, karena hangat. Ada juga borscht, makanan khas Rusia-Ukraina. Untuk pakaian, ia memakai tiga lapis: kaus, hoodie, dan jaket, ditambah long john di bawah celana jeans.
Sistem yang Layak Ditiru
Iqbal menemukan satu sistem pendidikan yang menurutnya bagus untuk diterapkan di Indonesia: mahasiswa boleh mengkritik dan menyanggah dosen, bahkan berdebat sampai membuktikan. "Kita diajarin buat kritis, enggak percaya satu teori dari satu perspektif aja." Hidup tidak hitam putih, banyak yang abu-abu, dan dosen di sana lebih senang mahasiswa bertanya daripada sekadar iya-iya saja. "Gue merasa didengar sebagai mahasiswa."
Wildan mengamini: beberapa dosen di kampusnya sudah mulai menerapkan itu, tapi sistemnya masih dogmatis, berbasis hafalan. "Masih butuh proses untuk menerapkan seperti cara di Eropa."
Berteman di Negeri Rantau
Iqbal mengaku bukan orang yang ekstrovert, jadi ia membiarkan semuanya mengalir: cari hobi dan interest yang sama, ajak ngobrol orang yang sedang menunggu kereta, atau mengobrol di dapur asrama. Menariknya, ia justru lebih dekat dengan orang asing selain Indonesia, karena dua-duanya saling tertarik pada budaya masing-masing. Meski begitu, "satu paspor itu ikatannya kuat banget": mudah berteman dengan sesama orang Indonesia karena budayanya sama. Dan soal orang Rusia yang terkesan dingin: "Kalau udah bertemanan, malah bisa lebih solid daripada orang Indonesia sendiri. Mereka enggak ngomongin di belakang." Ia pun sering latihan bahasa: dia ngomong bahasa Rusia, temannya ngomong bahasa Inggris.
Wildan berbeda: di kampus ia jarang bergaul; cukup satu dua teman untuk kelompok. Ia lebih suka ngobrol di kafe-kafe, dan dari situlah relasi datang. Ia juga jujur soal satu kejelekan di Indonesia: kadang suku-suku masih suka mengelompok sendiri. "Orang Semarang asli lebih cenderung gabung sama orang Semarang aja. Kalau ngumpul tetap pakai bahasa Jawa, enggak dijelasin apa yang dia obrolin."
Mengelola Uang di Perantauan
Keduanya masih disokong orang tua, tapi keduanya juga berjuang menambah penghasilan. Wildan menerima kiriman per minggu (setiap hari Senin di-TF) dan melengkapinya dengan freelance. Tipsnya: jangan beli yang mahal-mahal, mending warteg atau masak sendiri.
Iqbal menerapkan sistem pembukuan ala coffee shop di Excel: makanan, pakaian, tempat tinggal, semuanya dicatat. "Di akhir bulan kita bisa evaluasi mana yang over budget, mana yang masih bisa ditekan." Ia juga menemukan bahwa di Rusia mahasiswa gampang dapat kerja part-time; ia sendiri pernah bekerja di Samokat (semacam Astro), mengantar makanan naik sepeda di tengah salju. "Lumayan bayarannya buat nambah-nambah." Jam kerjanya fleksibel, bisa disesuaikan dengan jadwal kuliah. Tapi ada aturannya: visa pelajar memang untuk belajar, jadi kalau absennya banyak dan ketahuan kerja, bisa langsung dipulangkan, karena itu, pintar-pintar bagi waktu.
Ia juga merasakan betul dampak nilai tukar: "Dollar, posisi tukar mata uang di sana, apalagi kalau masih dikirim orang tua, ngaruh banget." Ketika rupiah sedang turun, ia mencari kerja tambahan, karena penghasilan dalam mata uang setempat tidak terpengaruh kurs, untuk menutup kebutuhan hidup sekaligus menabung.
Homesick: Kangen Makanan, Kangen Rumah
Bagi Iqbal, yang paling bikin kangen adalah makanan Indonesia. "Ternyata makanan Indonesia tuh nikmat banget." Cara mengatasinya: masak makanan Indonesia, telepon orang tua, atau sekadar menonton video orang masak nasi Padang, sate Padang, seblak. "Udah lumayan hilang kangennya." Wildan juga paling kangen makanan yang asin-asin, karena Semarang semuanya manis, plus lingkungan teman-teman di rumah. Soal hubungan jarak jauh? Video call dan phone call sudah cukup, apalagi Tomsk ternyata satu zona waktu dengan WIB.
Titik Terendah
Titik terendah Iqbal jatuh di semester pertama, saat adaptasi: galau, bokek, dan gagal ujian fisika. Yang pertama ia lakukan adalah mencari orang terdekat untuk bercerita: ke ibu, teman, dan roommate. "Kita makhluk sosial, jadi penting banget menjaga relasi. Jangan cuma diam, jangan anggap lo bisa atasi sendiri." Wildan punya ceritanya sendiri: teman-temannya di Semarang bentrok dalam kongsi bisnis. Dari situ ia belajar membedakan teman yang cuma mau nongkrong dengan teman yang bisa diajak maju bareng.
Pesan untuk Para Calon Perantau
Iqbal menutup dengan pesan: berani keluar dari zona aman, fleksibel, dan jangan pernah merasa cukup. "Masih banyak hal yang bisa kita pelajari di luar sana." Jangan overthinking: "lo jalan satu langkah itu lebih baik daripada lo cuma mikirin plan super plan lo ke depan tapi enggak lo lakuin. Daripada nunggu semuanya ideal, jalanin aja dulu." Ia menganalogikannya dengan membaca: lebih baik baca buku sehari satu halaman atau satu kalimat daripada tidak baca sama sekali. Wildan mengamini: jangan takut melangkah, yang penting jalan.
Sebagai penutup, Iqbal berpesan untuk para penggawa masa depan Indonesia: "Tetap berjuang apapun yang kalian perjuangkan, tetap bermimpi, gantungkan cita-cita. Karena kalau kalian jatuh, kalian akan jatuh di antara bintang-bintang. Jadi jangan pernah berhenti berjuang. Selagi benar, lakuin aja." Wildan menambahkan: "Jangan meninggi sama orang lain dan merasa dirinya rendah juga. Harus rendah hati, tapi enggak boleh rendah diri. Jangan merendahkan orang lain."
Penutup: Jembatan dan Perpisahan
Menjelang penghujung, host mengucapkan terima kasih kepada kedua narasumber, kepada Albanna yang memberi kesempatan memandu Senada kedua, dan kepada seluruh penonton dan pendengar yang setia dari tadi sore. Iqbal dan Wildan pun menerima sertifikat apresiasi. "Ini bisa masuk CV nih," canda Iqbal. Lalu Iqbal memanggil Sandra, perwakilan NCO, untuk menyampaikan kata-kata penutup.
Dalam sambutannya, Albanna memberikan apresiasi untuk Wildan, yang disebutnya "jago banget sejarah, salah satu yang paling knowledgeable", dan untuk Alna, host yang juga berencana merantau ke luar. Ia mengingatkan bahwa hari itu adalah hari terakhir Saska di NCO; bersama Sandra, keduanya disebut sebagai jembatan yang menyatukan semua orang. "Empat bulan lalu kita belum saling kenal. Ya, salah satunya kenapa kita baru bisa saling kenal ya karena Sandra, Saska. Jembatan." Acara ditutup dengan doa: semoga studi Iqbal dan Wildan lancar sampai tingkat terakhir, insya Allah, amin, dan pulang membawa cerita baru untuk diceritakan di sini.