Pada sebuah malam di NCO, Albanna membuka percakapan dengan pertanyaan: karma diukur dari apa — niatnya, atau outcome-nya? Ia lalu melempar sebuah gambaran. Kita menaruh kursi di depan, di luar, supaya siapa pun yang lelah bisa duduk. Lalu datang seseorang yang mengambil kursi itu, membawanya, dan memakainya untuk memukul orang lain sampai tumbang.
"Nah, ini karma baik atau karma buruk? Niatnya baik. Hasilnya buruk." Meja itu diam sesaat.
Niat Vs. Hasil
Reza menjawab lebih dulu, dan jawabannya lugas. "Di dunia nyata, yang dilihat orang itu hasilnya. Polisi nggak nanya niat lu dulu; yang dilihat ada yang tumbang. Kursinya punya siapa, dari mana. Lu bisa ketarik." Menurut Reza, itu bukan berarti niat tidak penting — hanya saja karma bekerja di dua meja yang berbeda. Ada peradilan manusia yang mencatat akibat, dan ada peradilan yang lebih tinggi yang mencatat sebab. "Kalau kita cuma lihat hasil, orang yang niatnya paling busuk pun bisa lolos asal nggak kelihatan bekasnya." Ia mengangkat bahu. "Makanya saya bilang, niat itu wajib, tapi bukan satu-satunya saksi."
Jundi menimang gelasnya, lalu bicara pelan. "Dalam hadis, setiap amal itu tergantung niatnya. Innama al-a'malu bin-niyyat." Yang menaruh kursi tidak bisa dituntut atas perbuatan orang yang memakainya, selama ia benar-benar berniat menolong. Niat lurus itu yang dibawa — sedangkan hasil, bukan selalu di tangan kita. Ia menyimpulkan sederhana: karma diukur dari niat.
Apang menunggu sampai dua orang itu selesai, lalu tersenyum. "Kursinya nggak punya karma. Kayu ya kayu." Baginya, yang menentukan adalah tangan yang menggerakkan. Orang yang menaruh kursi cuma menyediakan kesempatan; orang yang mengangkatnya yang memilih. "Niat orang yang naruh itu niat baik, dan itu selesai di situ. Sisa ceritanya milik orang yang ngangkat." Tapi Apang menambahkan satu hal yang membuat meja itu kembali terdiam: "Masalahnya, kita sering nyaman jadi kursi. Naruh sesuatu, nyuci tangan, dan nggak mau tahu apa yang terjadi sesudahnya."
Niat atau Sekadar Alibi
Ketiganya lalu bertengkar ringan soal satu kata: niat. Bagi Reza, niat tanpa niat yang jujur bisa jadi cuma alibi untuk lepas tangan. Bagi Jundi, justru karena niat itu satu-satunya yang tidak bisa dipalsukan di hadapan Allah, ia jadi ukuran yang paling adil. Bagi Apang, niat dan akibat itu seperti dua ujung tali yang sama. Albanna mendengarkan, sesekali menimpali, dan menyimpulkan setengah bercanda: "Jadi kalau kursinya dipakai buat mukul orang, yang salah bukan kursinya, bukan yang naruh, tapi yang mukul. Tapi kalau yang naruh tahu kursinya bakal dipakai mukul dan tetap naruh, dia bukan korban, dia peserta."
Malam, dan Jawaban dari Om Sus
Malam sudah larut ketika Om Sus menimpali. Ia tidak berbicara soal kursi. Ia bicara soal pekerjaan.
"Ini juga berlaku ke atasan yang mendorong bawahannya," katanya. Seorang atasan bisa mendorong bawahannya untuk tumbuh: membebani, menantang, menaruh beban yang berat supaya kakinya kuat. Bisa juga tampak melakukan hal yang sama persis: memberi beban, menekan, menuntut; tapi dengan niat yang berbeda, sekadar memakai orang itu sampai habis. Dari luar, keduanya kelihatan sama. Yang membedakan bukan bebannya, bukan tekanannya, dan bukan hasilnya di atas kertas. "Yang dihitung niatnya," kata Om Sus. "Kalau niatnya menumbuhkan, bebannya berat tapi itu karma baik. Kalau niatnya menjelekkan, bebannya ringan pun tetap karma buruk."
Di NCO, seperti biasa, percakapan tidak benar-benar selesai. Ia cuma berpindah, dari kursi di luar rumah ke kursi-kursi di ruang kerja, dan entah berapa banyak orang yang duduk di atasnya tanpa pernah tahu siapa yang menaruhnya, dan dengan niat apa.