Membuka Percakapan tentang AI dan Menulis
Pada Minggu malam, 31 Mei 2026, NCO Indonesia menggelar Senada #1 dengan tema Menulis di Era AI. Diskusi perdana dalam seri Senada: seri nalar dan aksara ini menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang yang berbeda, tetapi sama-sama akrab dengan dunia tulisan: Safar sebagai penulis buku dan Yoga sebagai jurnalis.
Tema AI dipilih bukan karena teknologi ini sedang ramai dibicarakan, melainkan karena kehadirannya mulai mengubah cara banyak orang bekerja, belajar, dan menulis. Dalam beberapa tahun terakhir, AI telah menjadi alat yang semakin mudah diakses. Dari merangkum dokumen, mencari referensi, hingga menghasilkan tulisan dalam hitungan detik, banyak pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat dilakukan jauh lebih cepat.
Namun sejak awal diskusi, pembahasan tidak diarahkan pada pertanyaan apakah AI baik atau buruk. Sebaliknya, para peserta mencoba melihat bagaimana teknologi tersebut digunakan, serta apa yang tetap perlu dipertahankan oleh manusia ketika sebagian proses kerja mulai dapat dibantu oleh mesin.
AI sebagai Alat, Bukan Pengganti
Safar dan Yoga sama-sama mengakui bahwa mereka menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari. Bagi Yoga, yang bekerja sebagai jurnalis, AI dapat membantu mempercepat proses pencarian data dan memahami dokumen yang panjang. Sementara bagi Safar, AI sering digunakan untuk membantu menelusuri sumber dan referensi awal sebelum ia mulai menulis.
Meski demikian, keduanya sepakat bahwa AI tidak menggantikan proses utama dalam menulis.
Dalam diskusi tersebut, AI lebih sering disebut sebagai asisten daripada pengganti. Ia membantu mengumpulkan bahan, tetapi tidak menentukan apa yang ingin disampaikan. Ia dapat menghasilkan teks, tetapi tidak memiliki pengalaman yang menjadi dasar dari sebuah tulisan.
Menulis sebagai Proses Berpikir
Poin ini kemudian berkembang menjadi pembahasan yang lebih menarik. Salah satu peserta mengangkat gagasan bahwa menulis sebenarnya bukan hanya kegiatan menyampaikan pikiran, tetapi juga proses menemukan pikiran itu sendiri. Sering kali seseorang baru memahami apa yang ingin ia katakan setelah mulai menulis, menyusun kalimat, menghapus bagian tertentu, dan memperbaiki argumennya.
Jika seluruh proses tersebut diserahkan kepada AI, maka muncul pertanyaan lain: apakah proses berpikir yang biasanya terjadi selama menulis masih berlangsung?
Pertanyaan ini tidak dijawab secara mutlak, tetapi menjadi salah satu benang merah yang terus muncul sepanjang diskusi.
Di Balik AI, Ada Persoalan yang Lebih Lama
Pembicaraan kemudian bergeser ke isu yang lebih luas, yaitu budaya membaca. Menurut para narasumber, persoalan utama sebenarnya bukanlah AI, melainkan rendahnya kebiasaan membaca dan menulis yang sudah lama menjadi masalah.
AI hanya memperlihatkan kondisi tersebut dengan lebih jelas.
Ketika seseorang tidak memiliki cukup referensi, tidak terbiasa membaca, dan tidak terbiasa mengembangkan argumen sendiri, AI mudah berubah menjadi jalan pintas. Sebaliknya, bagi orang yang memiliki kebiasaan membaca yang kuat, AI cenderung digunakan sebagai alat bantu tambahan, bukan sebagai sumber utama pemikiran.
Dalam konteks ini, diskusi bahkan menyinggung pendidikan di Indonesia. Para peserta membandingkan pengalaman membaca selama sekolah dan kuliah, serta mempertanyakan seberapa besar ruang yang diberikan sistem pendidikan untuk membangun kemampuan membaca dan menulis secara serius.
Pengalaman yang Tidak Bisa Dicari oleh Mesin
Percakapan menjadi semakin menarik ketika membahas pengalaman sebagai unsur yang tidak dapat digantikan oleh AI.
Safar menjelaskan bahwa sebagian besar tulisan dan cerita yang ia buat berangkat dari pengalaman, pengamatan, dan kedekatannya dengan kehidupan masyarakat pesisir. Menurutnya, informasi dapat dicari oleh siapa saja, tetapi pengalaman memberikan sudut pandang yang berbeda terhadap informasi tersebut.
Yoga memberikan contoh yang serupa ketika bercerita tentang penggunaan pengalaman pribadi dalam tulisannya. Detail-detail kecil yang berasal dari ingatan, suasana, atau pengalaman hidup sering kali menjadi bagian yang membuat sebuah tulisan terasa dekat dengan pembacanya.
Di titik ini, diskusi mulai bergerak dari persoalan teknologi menuju persoalan yang lebih mendasar: apa yang membuat tulisan manusia tetap relevan?
Bahasa, Budaya, dan Cara Bercerita
Jawaban yang muncul tidak selalu sama. Namun sebagian besar mengarah pada satu hal, yaitu kemampuan manusia untuk mengalami, memahami, dan menafsirkan dunia secara langsung.
AI dapat mengetahui banyak hal. Ia dapat mengakses jutaan halaman informasi. Namun pengalaman hidup, konteks budaya, hubungan antarmanusia, dan cara seseorang memaknai suatu peristiwa masih menjadi wilayah yang sulit digantikan.
Hal yang sama muncul ketika diskusi menyentuh soal bahasa. Beberapa peserta menyoroti bagaimana penggunaan bahasa selalu berkaitan dengan konteks sosial dan budaya. Pemilihan kata, nada bicara, hingga cara seseorang bercerita sering kali dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan lingkungan tempat ia tumbuh. Karena itu, meskipun AI semakin baik dalam menghasilkan teks, nuansa yang muncul dalam tulisan manusia masih memiliki karakter yang berbeda.
Kemampuan yang Perlu Tetap Dijaga
Menjelang akhir acara, moderator mengajukan pertanyaan sederhana kepada para narasumber: jika ada satu kemampuan manusia yang harus tetap dijaga di era AI, apa itu?
Jawabannya beragam. Ada yang menyoroti pentingnya keterampilan fisik, ada yang menyebut pengalaman hidup, dan ada pula yang menekankan pentingnya rasa. Namun seluruh jawaban tersebut mengarah pada gagasan yang sama: manusia tetap perlu terhubung secara langsung dengan dunia di sekitarnya.
Membaca, mengamati, mengalami, dan berpikir tetap menjadi fondasi yang tidak dapat sepenuhnya dialihkan kepada teknologi.
Menjaga yang Tetap Manusia
Senada #1 tidak menghasilkan kesimpulan tunggal mengenai bagaimana AI seharusnya digunakan. Sebaliknya, diskusi ini menunjukkan bahwa teknologi selalu bergantung pada cara manusia memanfaatkannya. AI dapat menjadi alat yang membantu proses belajar dan berkarya. Namun tanpa kebiasaan membaca, kemampuan berpikir kritis, dan pengalaman yang nyata, teknologi tidak akan banyak membantu menghasilkan tulisan yang bermakna.
Sebagai diskusi perdana, Senada #1 membuka ruang bagi pertanyaan-pertanyaan yang kemungkinan akan terus relevan dalam beberapa tahun ke depan. Bukan hanya tentang AI, tetapi juga tentang bagaimana manusia mempertahankan kemampuan berpikir, belajar, dan bercerita di tengah perubahan teknologi yang berlangsung semakin cepat.